2.1 Pengertian Limbah
Limbah adalah buangan yang
dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah
tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah) atau juga dapat dihasilkan oleh alam
yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki
lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi,
limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi
dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap
lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan
terhadap limbah. Penanganan limbah ini tentunya tidak hanya sekedar mengolahnya
atau mendaur ulangnya langsung tanpa memperhatikan jenis limbah dan cara
penangannanya klarena dari setiap limbah yang ada mempunyai ciri berbeda
terhadap dampak yang ditimbulkanya.
2.2 Pengertian Plastik
Plastik adalah bahan yang mempunyai
derajat kekristalan lebih rendah daripada serat, dan dapat dilunakkan atau
dicetak pada suhu tinggi (suhu peralihan kacanya diatas suhu ruang), jika tidak
banyak bersambung silang. Plastik merupakan polimer bercabang atau linier yang
dapat dilelehkan diatas panas penggunaannya. Plastik dapat dicetak (dan dicetak
ulang) sesuai dengan bentuk yang diinginkan dan yang dibutuhkan dengan
menggunakan proses injection molding dan ekstrusi,
Istilah plastik mencakup produk polimerisasi
sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau
penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan
performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alam yang termasuk plastik. Plastik
dapat dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta
bahwa banyak dari mereka “malleable”, memiliki properti keplastikan. Plastik
didesain dengan variasi yang sangat banyak dalam properti yang dapat menolerans
panas, keras, “reliency” dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan
adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik
digunakan hampir di seluruh bidang industri. Plastik dapat juga menuju ke
setiap barang yang memiliki karakter yang deformasi atau gagal karena shear
stress- lihat keplastikan (fisika) dan ductile. Plastik adalah polimer;
rantai-panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit
molekul berulang, atau “monomer”. Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon
saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang
(beberapa minat komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian
dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan.
Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan “bergantung” (biasanya
“digantung” sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama
untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup “pendant” telah
membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21 dengan
memperbaiki properti dari polimer tersebut.
2.3
Limbah Plastik
Nama
plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia.
Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat
thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali
dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila
telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum
digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat.
Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor
Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton
sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu
tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan
terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai konsekuensinya,
peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut Hartono (1998)
komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga
adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap
pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut
akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain
tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air,
maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan.
(YBP,1986)
Plastik juga merupakan
bahan anorganik buatan yang tersusun dari bahan-bahan kimia yang cukup berahaya
bagi lingkungan. Limbah daripada plastik ini sangatlah sulit untuk diuraikan
secara alami. Untuk menguraikan sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang
lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi secara sempurna. Oleh karena itu
penggunaan bahan plastik dapat dikatakan tidak bersahabat ataupun konservatif
bagi lingkungan apabila digunakan tanpa menggunakan batasan tertentu. Sedangkan
di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kita yang berada di
Indonesia,penggunaan bahan plastik bisa kita temukan di hampir seluruh
aktivitas hidup kita. Padahal apabila kita sadar, kita mampu berbuat lebih
untuk hal ini yaitu dengan menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang
disimpan di rumah. Dengan demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi
limbah plastik yang dapat terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Atau
bahkan lebih bagus lagi jika kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu
yang lebih berguna (recycle).
Kode-kode itu
dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika
Serikat dan diadopsi oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO
(International Organization for Standarization). Tujuannya, untuk memudahkan
konsumen mengenali bahaya dan keamanan wadah yang terbuat dari plastik. Tanda
pengenal plastik itu sendiri dibagi menjadi 7 kelompok.
Angka
1
Tanda ini biasanya disertai tulisan PET
(polyethylene terephthalate). Plastik jenis ini berwarna jernih atau transparan
dan banyak dipakai untuk botol air mineral, jus, dan hampir semua botol minuman
ringan lain. Yang perlu diperhatikan adalah botol dengan bahan ini
direkomendasikan hanya sekali pakai. Mengapa? Pertama, desain leher sempit pada
botol membuatnya sulit dibersihkan. Lama kelamaan bakteri dari tangan dan mulut
dapat tumbuh di botol. Kedua, bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan
untuk menyimpan air hangat atau panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada
botol tersebut meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (yang dapat
menyebabkan kanker) dalam jangka panjang.
Angka 2
Angka 2
Umumnya, kode ini disertai tulisan HDPE
(high density polyethylene). Jenis plastik ini memiliki sifat bahan yang lebih
kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Biasa dipakai untuk
botol kemasan susu berwarna putih, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain.
HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman digunakan karena kandungan
plastiknya mampu mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik dengan makanan
atau minuman yang dikemasnya. Meski begitu, sama seperti PET, HDPE juga
direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian saja. Pasalnya, untuk membuat PET
dan HDPE digunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa kimia itu mudah masuk ke
dalam tubuh melalui pernapasan. Kontaminasi senyawa dalam periode lama akan
menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi perempuan, senyawa ini
bisa meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran.
Angka
3
Inilah jenis plastik yang paling sulit
didaur ulang. Pada kemasan yang mengandung plastik jenis ini biasanya tertera
logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya serta
tulisan V yang berarti PVC (polyvinyl chloride). Plastik ini bisa ditemukan
pada pembungkus (wrap) dan beberapa botol minuman kemasan. Jenis ini berbahaya
untuk kesehatan karena mengandung DEHA (Di-2-etil-heksiladipat) yang dapat
bereaksi dengan makanan saat bersentuhan langsung. DEHA bisa lumer pada suhu 15
derajat celsius. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas
plastik ini berbahaya untuk ginjal, hati dan penurunan berat badan. Sebisa
mungkin hindari pemakaian jenis plastik ini. Cari alternatif pembungkus lain
saja seperti plastik dari polyethylene atau bahan alami, misalnya daun pisang
atau daun jati.
Angka 4
Angka 4
Biasanya ditulis bersama kode LDPE (low
density polyethylene). Karakter plastik ini kuat, agak tembus cahaya, fleksibel
dengan permukaan agak berlemak. Terbuat dari minyak bumi dan biasa dipakai
untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Pada suhu
di bawah 60 derajat Celsius, plastik ini sangat resisten terhadap senyawa
kimia. Daya proteksinya terhadap uap air tergolong baik. Namun, kurang baik
bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Plastik ini sulit dihancurkan tapi
dapat didaur ulang. Bahan ini baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi
secara kimiawi dengan makanan yang dikemasnya.
Angka 5
Angka 5
Tulisann PP (polypropylene) biasanya
hadir bersama angka ini. Karakteristik plastik ini lebih kuat, transparan yang
tidak jernih atau berawan, ringan dengan daya tembus uap yang rendah, memiliki
ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup
mengkilap. PP adalah jenis bahan plastik terbaik dan aman, terutama untuk tempat
makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan
terpenting botol susu untuk bayi serta wadah plastik yang bisa dipanaskan dalam
microwave. Carilah wadah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan
plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.
Angka
6
Terbuat dari bahan plastik jenis PS
(polystyrene). PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat
minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang
dapat mengeluarkan bahan styrene ketika makanan itu bersentuhan dengan wadah.
Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap
kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena
berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada perempuan yang
berakibat pada masalah reproduksi, pertumbuhan dan sistem saraf. Selain itu,
bahan plastik ini sulit didaur ulang karena memerlukan proses yang sangat
panjang dan lama.
Angka
7
Biasanya disertai tulisan OTHER. Jenis
plastik ini terbagi 4 yaitu PC (polycarbonate), SAN (styrene acrylonitrile),
ABS (acrylonitrile butadiene styrene), dan Nylon. OTHER dapat ditemukan pada
botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat
elektronik, dan plastik kemasan, botol susu bayi, gelas Balita (sippy cup),
botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan, termasuk kaleng susu formula. Sebenarnya
PC tidak dianjurkan sebagai wadah karena dapat mengeluarkan bahan utamanya,
Bisphenol A ke dalam makanan dan minuman. Efeknya, bisa merusak sistem hormon,
kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas.
Sedangkan SAN dan ABS baik digunakan sebagai kemasan karena memiliki resistensi
yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu. Biasanya SAN terdapat pada mangkuk
miksaer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi.
Sementara ABS digunakan sebagai bahan mai inan lego dan pipa.
2.5 Upaya Penanggulangan Limbah Plastik
1. Daur Ulang
Penanganan limbah
plastik yang paling ideal adalah dengan mendaur ulang. Akan tetapi, hal itu
tampaknya tidak mudah dijalankan. Proses daur ulang melalui tahap-tahap
pengumpulan, pemisahan (sortir), pelelehan, dan pembentukan ulang. Tahapan
paling sulit adalah pengumpulan dan pemisahan. Kedua tahapan ini akan lebih
mudah dilakukan jika masyarakat dengan disiplin ikut berpartisipasi, yaitu
ketika membuang sampah plastik. Dewasa ini, plastik yang cukup banyak didaur
ulang adalahjenisHDPE dan botol-botol plastik.
2. Incinerasi
Cara lain untuk
mengatasi limbah plastik adalah dengan membakarnya pada suhu tinggi
(incinerasi). Limbah plastik mempunyai nilai kalor yang tinggi, sehingga dapat
digunakan sebagai sumber tenaga untuk pembangkit listrik. Beberapa pembangkit
listrik menggunakan batu bara yang dicampur dengan beberapa persen ban bekas.
Akan tetapi, pembakaran sebenarnya menimbulkan masalah baru, yaitu pencemaran
udara. Pembakaran plastik seperti PVC menghasilkan gas HCl yang bersifat
korosif. Pembakaran ban bekas menghasilkan asap hitam yang sangat pekat dan
gas-gas yang bersifat korosif. Gas-gas korosif ini membuat incinerator cepat
terkorosi. Polusi yang paling serius adalah dibebaskannya gas dioksin yang
sangat beracun pada pembakaran senyawa yang mengandung klorin seperti PVC.
Untuk itu, pembakaran harus dilakukan dengan pengontrolan yang baik untuk
mengurangi polusi udara.
3. Plastik Biodegradable
Sekitar separuh dari
penggunaan plastik adalah untuk kemasan. Oleh karena itu, sangat baik jika
dapat dibuat plastik yang bio- atau fotodegradable. Hal itu telah diupayakan
dan telah dipasarkan. Kebanyakan plastik biodegradable berbahan dasar zat
tepung. Sayangnya, plastik jenis ini lebih mahal dan kelihatannya masyarakat
enggan untuk membayar lebih.
Untuk mengurangi
pencemaran plastik:
1. Kurangi penggunaan plastic
2. Sampah plastik harus
dipisahkan dengan sampah organik, sehingga dapat didaur ulang.
3. Jangan membuang sampah
plastik sembarangan.
4. Sampah plastik jangan
dibakar.
Untuk menghindari bahaya
keracunan akibat penggunaan plastic:
1. Gunakan kemasan makanan
yang lebih aman, seperti gelas.
2. Gunakan penciuman, jika makanan/minumam bau plastik jangan
digunakan.
3. Cegah penggunaan botol
susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang
penghisapnya) berbahanpolycarbonate, cobalah pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, polyethylene atau polypropylene. Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, polypropylene, atau polyethylene. Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahanlatex.
penghisapnya) berbahanpolycarbonate, cobalah pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, polyethylene atau polypropylene. Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, polypropylene, atau polyethylene. Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahanlatex.
4. Janganlah menyimpan air
minum atau pun makanan dalam keadaan panas.
5. Hindari penggunaan
botol plastik untuk menyimpan air minum. Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode
1) dan HDPE (kode 2), tidak dapat dicegah, gunakanlah hanya sekali pakai dan
segera dihabiskan karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat
seiring waktu. Bahan alternative yang dapat digunakan adalah botolstainless
steel atau kaca.
6.
Cegahlah memanaskan makanan yang dikemas dalam plastik, khususnya pada
microwave oven, yang dapat mengakibatkan zat kimia yang terdapat pada plastik
tersebut terlepas dan bereaksi dengan makanan lebih cepat. Hal ini pun dapat
terjadi bila kemasan plastik digunakan untuk mengemas makanan berminyak.
Daftar
Pustaka
Di akses tanggal 06 April 2013
Di akses tanggal 06 April 2013
Di akses tanggal 06 April 2013
Diakses tanggal 06 April 2013
Diakses tanggal 06 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar