Rabu, 09 April 2014

PENDEKATAN dan METODE MIPA

2.1  Pendekatan Dan Metode Pembelajaran Matematika 

Ada beberapa model pendekatan dalam metode pendekatan mipa

2.1.1 Pendekatan Spiral
Pendekatan dalam proses belajar mengajar, merupakan suatu konsep atau prosedur yang digunakan dalam membahas suatu bahan pelajaran untuk mencapai tujuan belajar mengajar. Salah salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam pelajaran matematika adalah pendekatan spiral. Soedjana (1986) mengatakan bahwa pendekatan spiral adalah pendekatan yang dipakai untuk mengajarkan konsep. Selanjutnya dikatakan bahwa pendekatan spiral materi tidak diajarkan dari awal sampai selesai dalam sebuah selang waktu, tetapi diberikan dalam beberapa selang waktu yang terpisah-pisah.
Pada selang waktu pertama konsep diajarkan secara sederhana, misalnya dengan cara intuitif melalui benda-benda konkret atau gambar-gambar sesuai dengan kemampuan murid. Pada tahap berikutnya konsep yang diajarkan secara sederhana dapat diperluas lagi. Sehingga murid dalam belajar matematika dapat dilakukan secara singkat dapat dikatakan pendekatan spiral merupakan suatu prosedur yang dimulai dengan cara sederhana dari konkret ke abstrak, dari cara intuitif ke analisa dari eksplorasi (penyelidikan) kepenguasaan dalam jangka waktu yang cukup lama, dalam waktu yang terpisah-pisah mulai dari tahap yang paling rendah ke tahap yang paling tinggi.
Uraian diatas dapat diperjelas dengan materi fungsi berikut ini. Fungsi pada mulannya diperkenalkan kepada siswa SD dalam bentuk = 4+7, kemudian diperluas lagi pada waktu siswa berada di SMP dengan mengan menggunakan notasi y=4x+7, dan selanjutnya pada waktu siswa berada di SMA mungkin dapat diperluas lagi menjadi y=f(x).
2.1.2      Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif berdasarkan pada penalaran deduktif soedjana (1986) mengatakan bahwa pendekatan deduktif merupakan cara berpikir untuk menarik kesimpulan dari hal yang umum menjadi khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Dalam silogisme ini biasanya terdiri dari dua pernyataan yang benar dan sebuah kesimpulan (konklusi). Kedua pernyataan pendukung silogisme itu disebut premis (hipotesis) yang dibedakan menjadi dua bagian, yaitu premis mayor dan premis minor. Dari kedua premis inilah diperoleh sebuah kesimpulan.
Pada hakikatnya matematika merupakan suatu ilmu yang diadakan atas akal (rasio) yang berhubungan dengan benda-benda yang membutuhkan pemikiraan abstrak. Disamping itu dapat dipahami pula, bahwa matematika itu adalah ilmu yang deduktif sehingga mengajarkannya juga harus menggunakan pendekatan deduktif ruseffendi(1998) mengatakan bahwa pendekatan deduktif tidak asing lagi bagi kita sebab pendekatan itu merupakan cirri khas dari pengajaran matematika.

2.1.3 Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif merupakan suatu proses berpkir yang dilakukan dengan cara tertentu untuk menarik kesimpulan. Soedjana (1986) mengatakan bahwa pendekatan induktif adalah pendekatan yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan, baik yang dilakukan dengan pendekatan ini, diperlukan percobaan secara empiris. Proses penalaran tersebut disebut penalaran induktif.

2.1.4 Pendekatan Formal
Sebelum adanya program pengajaan matematika modern, geometri diajarkan di SMP dan SMA deduktif normal, pengajarannya mirip dengan apa yang diajarkan oleh Euclid dua ribu tahun yang lalu diyunani. Cara deduktif itu sesuai dengan sistemnya. Suatu system formal dengan unsur-unsur atau istilah-istilah yang tidak didefinisikan.
Kemudian dibuat definisi-difinisi mengenai unsure-unsur atau istilah-istilah itu dan ditetapkan sejumlah anggapan dasar atau aksioma yang merupakan pernyataan-pernyataan mengenai unsur-unsur itu fakta-fakta atau dalil-dalil dalam system ini menyusun sebagai konsekuensi logis dengan penalaran deduktif.
Banyak sifat dalil yang diturunkan, hal ini harus dibuktikan kebenarannya jika sudah terbukti benar, maka dalil atau sifat itu berlaku secara umum dalam sistemnya. Dalam system ini tidak ada kontradiksi, sehingga matematika biasa disebut ilmu dedukif.

2.1.5 Pendekatan Kontekstual
Russefendi dalam ismail (2002) mengatakan bahwa pendekatan adalah suatu jalan cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Apabila melihatnya dari sudut pembelajaran matematika antara lain cara belajar siswa aktif (CBSA).
Pendekatan kontekstual adalah istilah lain dari pendekatan cara belajar siswa aktif sebab apa yang dilakukan dalam pendekatan CBSA adalah sama dengan apa yang ada didalam pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual ini sebagai salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang terdapat dalam kurikulum berbasis kompetensi. Pada prinsipnya kurikulum tersebut mengisyaratkan kepada kita, agar dalam pembelajaran matematika disekolah, guru membawa siswa ke dalam dunia nyata. Dengan kata lain, proses pembelajaran selalu digunakan dengan konkret yang ada di lingkungan siswa.

2.2       Pendekatan dan Metode dalam Pembelajaran IPA

2.2.1      Pendekatan dalam Pembelajaran IPA
Pendekatan pembelajaran adalah titik tolak (guru) terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran.
a). Pendekatan Ekspositori
Pendekatan ini lebih bersifat “memberi tahu”. Artinya guru lebih dominan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini siswa bersifat pasif, hanya  menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Yang dilakukan guru pada pendekatan ini umumnya adalah memberi ceramah, mendemonstrasikan sesuatu dan lain-lain.
Keuntungan dengan menggunakan pendekatan ini adalah bahwa bahan pelajaran dapat diselesaikan dengan cepat dan dimengerti oleh siswa. Pendekatan ini dapat digambarkan sebagai DDCH (Duduk, Dengar, Catat, Hafal). Sehingga dalam pendekatan ini gurunya aktif sedangkan siswanya pasif.
b). Pendekatan Inkuari
Pendekatan ini lebih bersifat “mencari tahu”. Artinya siswa sangat aktif mencari sendiri informasi yang ia perlukan. Dalam pendekatan ini dominasi guru lebih sedikit. Dari penjelasan tersebut, dapat kita ketahui bahwa pendekatan inkuari bertolak belakang dengan pendekatan ekspositori. Pendekatan ini menginginkan keaktifan siswa untuk memperoleh informasi sampai menemukan konsep-konsep IPA. Dalam pendekatan ini guru membimbing siswa menemukan sendiri konsep-konsep itu melalui kegiatan belajarnya.
Ditinjau dari kadar keterlibatan guru dalam pembelajaran, pendekatan ini terdiri dari :
Ø  Pendekatan Free Discovery (Penemuan Bebas)
Dengan pendekatan ini siswa diberi kebebasan untuk memilih sendiri masalah yang akan dipelajari maupun cara untuk memecahkan masalah tersebut. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang sudah memiliki kemampuan untuk berfikir formal. Namun menurut pengalaman piaget, ternyata tidak banyak anak usia SD yang sudah mencapai tingkat pemikiran semacam itu.
Ø  Pendekatan Guide Discovery (Penemuan Terbimbing)
Pendekatan ini dapat dikatakan sebagai gabungan dari pendekatan ekspositori dengan inkuari, tujuannya adalah untuk mendapatkan efektivitas yang optimal khususnya bagi anak usia SD. Carin dan Sund (1985) mengatakan anak-anak yang masih sangat muda, perlu mendapat bimbingan guru yang relatif besar.
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling tepat digunakan untuk anak usia SD. Dalam hal ini siswa aktif melakukan eksplorasi atau observasi atas bimbingan guru. Kegiatan ini dapat meningkatkan intelektual siswa, dan hasil belajar menjadi lebih tinggi serta dapat mengembangkan sikap positif terhadap IPA.
Ø  Pendekatan Eksploratory Discovery (Penemuan Eksploratorik) 
Dalam pendekatan ini tugas guru antara lain:
  • Melontarkan masalah-masalah dan mengundang siswa untuk memecahkan masalah tersebut.
  •  Memberi motivasi belajar.
  •  Membantu siswa yang benar-benar memerlukan agar tidak mengalami jalan buntu atau frustasi
  •  Bila perlu, guru sebagai narasumber.
Keuntungan dengan menggunakan pendekatan ini antara lain: 
  • Dapat memberi kemampuan awal kepada siswa untuk melakukan sendiri suatu penelitian.
  • Dapat memacu keberanian siswa untuk melakukan penelitian secara mandiri dimasa yang akan datang.
c). Pendekatan Proses
Pendekatan ini senada dengan pendekatan inkuari, karena pendidikan ini
menginginkan keaktifan  siswa dan juga guru tidak dominan dalam proses pembelajaran tetapi bertindak sebagai organisator dan fasilitator saja.
Pendekatan ini memiliki ciri-ciri khusus:
  •   Ilmu pengetehuan tidak dipandang sebagai produk semata tetapi sebagai proses
  •  Siswa dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan memproses informasi dalam pikirannya.
d). Pendekatan Konsep
Konsep adalah suatu ide yang menghubungkan beberapa fakta. Dalam pencapaian atau pembentukan konsep biasanya peserta didik memerlukan benda-benda konkrit untuk diotak-atik, eksplorasi fakta-fakta dan ide-ide secara mental. Pendekatan konsep memerlukan lebih dari sekedar menghafal, lebih menunjukkan gambaran yang lebih tepat tentang IPA.
e). Pendekatan Factual
Pendekatan ini menekankan penemuan fakta-fakta dalam IPA . contoh informasi yang didapatkan murid dengan pendekatan ini, misalnya ular termasuk golongan reptil, merkurius adalah planet yang terdekat dengan matahari. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah membaca, mengulang, melatih dan lain-lain.  Pada dasarnya pembelajaran IPA dengan pendekatan ini akan menimbulkan kebosanan pada diri murid-murid dan tidak memberikan gambaran yang benar tentang IPA. 
2.2.2.      Metode Pembelajaran IPA
Metode adalah cara yang digunakan oleh guru untuk mengaplikasikan strategi belajar yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Berikut ini adalah beberapa metode pembelajaran ipa di sd : 
1)      Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode dimana guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, kemudian memberikan suatu persoalan atau masalah untuk dipecahkan secara bersama-sama dengan teman satu kelompoknya.
Ciri-ciri metode ini adalah :
·                     Siswa dibagi dalam beberapa kelompok
·                     Ada permasalahan yang sedang dicarikan solusinya
·                     Ada yang menjadi pemimpin
·                     Ada proses tukar pendapat
·                     Ada hasil diskusi. 
2)      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang digunakan guru dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian ataupun konsep-konsep IPA kepada siswa. Metode mengajar yang seperti ini sangat disukai oleh siswa karena adanya pergerakan pada proses belajar-mengajar. 
3)      Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah cara penyajian bahan ajar dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Kelebihan metode ini adalah:
  •     Suasana belajar yang lebih aktif  
  • Siswa memperoleh kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum    dipahami
  •  Guru dapat mengetahui tingkat penguasaan peserta didik secara langsung 
  •   Dapat melatih siswa untuk mengemukakan pendapat secara lisan.
 Kelemahan metode ini adalah :
  • Pertanyaan yang diberikan cenderung meminta jawaban yang bersifat hafalan
  •  Guru sulit mengetahui secara pasti tentang siswa yang tidak mengajukan pertanyaan, apakah sudah menguasai atau belum 
4). Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan tidak asing lagi dan telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan. Cara ini kadang membosankan, maka dalam pelaksanaannya memerlukan keterampilan tertentu, agar penyajiannya tidak membosankan dan dapat menarik perhatian siswa. 
Kelebihan metode ini adalah : 
  • Merupakan metode yang murah dan mudah
  • Dapat menyajikan materi yang pelajaran yang luas
  • Dapat mengontrol keadaan kelas
  • Dapat diikuti jumlah siswa yang besar
  • Dapat menyelesaikan materi pelajaran dengan cepat.
Kelemahan metode ini adalah : 
  •  Materi yang dikuasai siswa akan terbatas pada apa yang dikuasai guru 
  •    Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, maka siswa akan merasa bosan 
  • Guru sulit mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti tentang materi yang sudah dijelaskan oleh guruCenderung membuat siswa pasif.
5)Metode Eskperimen
Metode pembelajaran eksperimen adalah cara pengelolaan pembelajaran dimana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri konsep IPA yang dipelajarinya.
6). Metode Study Tour  
Metode ini adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan dengan didampingi oleh pendidik.   
 7). Metode Resitasi
Metode pembelajaran resitasi adalah metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.

2.3       Perbedaaan  Pendekatan dan Metode Pembelajaran Matematika dan IPA.

Metode dibedakan dari pendekatan. Pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode lebih menekankan pada teknik pelaksanaannya.
Satu pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dalam pelaksanaan proses tersebut digunakan beberapa metode. Sebagai contoh dalam pembelajaran pencemaran lingkungan. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut dapat dipilih dari beberapa pendekatan yang sesuai, antara lain pendekatan lingkungan. Ketika proses pembelajaran pencemaran lingkungan dilaksanakan dengan pendekatan lingkungan tersebut dapat digunakan beberapa metode, misalnya metode observasi, metode didkusi dan metode ceramah. Supaya lebih jelas ikuti perencanaan yang dilakukan oleh seorang guru ketika akan memberi pembelajaran pencemaran lingkungan tersebut. Pada awalnya ia memilih pendekatan lingkungan, berarti ia akan menggunakan lingkungan sebagai fokus pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran melalui konsep pencemaran lingkungan siswa akan memahami tentang lingkungan sekitarnya apakah sudah tercemar atau tidak. Untuk merealisasikan hal tersebut ia menggunakan metode diskusi dan ceramah. Dalam pembelajarannya ia membuat suatu masalah untuk didiskusikan oleh siswa kemudian ia akan mengakhiri pembelajaran tadi dengan memberi informasi yang berkaitan dengan hasil diskusi.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa metode dan pendekatan dirancang untuk mencapai keberhasilan suatu tujuan pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
Terdapat tiga perbedaan pandangan mendasar dalam pembelajaran.
Pertama, yang semula memandang matematika hanya sebagai pengetahuan dan prosedur yang harus diajarkan, menjadi suatu keterkaitan ide-ide dan proses melakukan penalaran.
Kedua, belajar yang semula dipandang sebagai aktivitas individu untuk menguasai prosedur melalui penjelasan guru, menjadi aktivitas berkolaborasi untuk memperoleh pemahaman dengan usaha sendiri.
 Ketiga, mengajar yang semula berupa penyampaian kurikulum secara terstruktur, menjelaskan materi, dan mengoreksi kekeliruan siswa, menjadi menggali pengetahuan melalui dialog, menyajikan permasalahan tanpa diawali dengan penjelasan atau contoh, dan ketidakpahaman siswa dijadikan titik awal untuk pembenaran pengetahuan yang perlu dipahami siswa.
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif  (Sanjaya,  2008:127).
Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Metode  adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran.
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
1)                ceramah;
2)                demonstrasi;
3)                diskusi;
4)                simulasi;
5)                laboratorium;
6)                pengalaman lapangan;
7)                brainstorming;
8)                 debat,
9)                simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. 
Kembali ke pembelajaran, guru dapat berkreasi dengan berbagai model pembelajaran yang khas secara menarik, menyenangkan, dan bermanfaat bagi siswa. Model guru tersebut dapat pula berbeda dengan model guru disekolah lain meskipun dalam persepsi pendekatan dan metode yang sama.Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, model, dan teknik secara spesifik. Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa sebenarnya aspek yang juga paling penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah penguasaan model pembelajaran.

2.4        Keterkaitan MIPA dengan Teknologi dan Masyarakat

Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki dua aspek yaitu teori dan pengamatan yang harus terkait. Keterkaitan antara MIPA dengan masyarakat adalah tidak langsung, yang terkait langsung adalah teknologi. Teknologi berperan untuk mengubah dan menguasai dunia fisik, sedangkan pengetahuan digunakan untuk memahami kejadian – kejadian dunia fisik. Kegiatan teknologi inilah proses memproduksi barang dan jasa yang juga menghasilkan sejumlah konsep dan metode mengenai proses produksi tersebut. Akibatnya kemajuan teknologi membawa dampak terhadap kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Secara tidak langsung dari perkembangan MIPA dan teknologi memunculkan cabang – cabang ilmu pengetahuan yang baru. Dengan menggunakan cabang – cabang pengetahuan baru tersebut kita dapat memperoleh hasil,misalnya:
·                     Penggunaan teknik kimia
·                     Penggunaan teknologi hutan
Pengaruh langsung teknologi masyarakat ialah masalah teknologi tepat guna. Jadi pengetahuan dan teknologi menyajikan kemudahan – kemudahan, kemakmuran, kenyamanan. Namun demikian juga memiliki pengaruh baik maupun buruk. Dari pengalaman diketahui bahwa manusia menguasai pengetahuan dan teknologi akan semakin makmur kehidupannya juga bagi negaranya. Namun demikian dampak negatif yang paling menonjol karena adanya teknologi yaitu masalah pengendalian diri bagi manusia yang bersangkutan tersebut.
2.4.1      Hubungan IPA dan Matematika
IPA diperoleh melalui kerja sama antara pengalaman empiris dan pemikiaran teoristis rasional. Di dalam ipa kita menemukan banyak seklai besaran, besaran ialah segala sesuatu yang dapat diukur atau di hitung. Besaran-besaran tersebut selalu dapat dinyatakan dalam suatu kuantitas. maka IPA tidak lepas dari persoalan mengukur dan menghitung. Mengukur dan menghitung siuatu besaran berhubungan dengan harga atau besarnya besaran itu. besaran yang hanya mempunyai harga saja disebut besaran skalar. Itulah sebabnya matematika memegang peran penting dalam ipa terutama fisika. hasil eksperimen yang mencari hubungan antara dua buah besaran dapat dirumuskan dalam bentuk matematika. sebaliknaya pembahasan suatu gejala alamaiah secara teoristis matematika dapat menjelaskan fakta alamiah.
2.4.2 Peran  IPA Dalam Teknologi Dan Masyarakat
Peradaban manusia selalu bertumbuh dan berkembang, suatu bangsa mempengaruhi beradaban bangsa lain. Tidak ada suatau bangsa yang peradabannya maju dari dirinya sendiri. Setiap bangsa saling mempengaruhi memperkaya kebudayaan masing-masing bangsa yang terisolasi dengan bangsa-bangsa lain
a.      Jenis-jenis pengetahuan
Pengetahuan manusia dapat digolongkan atas 4 jenis pengetahuan.
1.      Pengetahuan takhayul atau mitos
Mitos adalah suatu penjelasan atas fakta yang tidak ada kebenarannya hanya diduga dan dipercaya begitu saja. Semua suku bangsa pada jamn dahulu mempunyai mitos dan legenda. Legenda adalah cerita rakyat yang berdasarkan mitos. Manusia tidak sanggup menjelaskan secara benar dan ilmiah tentang segala sesuatu yang diamati maka muncullah penjelasan yang brsifat tahayul
2.      Pengetahuan ilmiah
Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang di peroleh melalui penelitian dengan pengamatan panca indra dan penalaran akal budi disusun secara sistematis untuk menjelaskan fakta yang sedang dihadapi, yang merangsang panca indra dan pikiran manusia.  
3.      Pengetahuan Super-Natural
Pengetahuan Super-Natural adalah pengetahuan yang tidak termasuk pada takhayul dan pengetahuan ilmiah, namun mempunyai fakta. Pengetahuan super natural tidak dapat dijangkau dengan panca indra maupun akal budi, sifatnya tradisional (diluar jangkauan akal budi). Karena itu pengetahuan ini tidak di tanggapi dengan iman, sifatya sangat pribadi dan menyangkut hak-hak asasi manusia.
Secara ilmiah ditusuk dengan pisau seharusnya pisau menembus bagian tubuh yang ditusuk. Tetapi kenyataanya ada orang yang ditusuk tidak luka sedikitpun. Pengetahuan dari agama, termasuk pengetahuan super natural, menyangkut iman dan hak-hak azasi manusia.
4.       Pengetahuan ilmiah semu
Pengetahuan ilmiah semu adalah pengetahuan yang berdasarkan fakta ilmiah tetapi dicampur dengan kepercayaan dan hal-hal yang bersifat super-natural. Contohnya ilmu perbintangan yang dihubungkan dengan kepercayaan ramalan nsib disebut astrologi. Astrologi bukan pengetahuan ilmiah melainkan pseudoscience.
Pada zaman dahulu zaman dahulu ketika manusia hidup pada tingkat primitive wilayah mitos dan super natural menguasai dan lebih dominan dari pada wilayah rasio.
Makin maju taraf pemikiran dan kebudayaan manusia, wilayah rasio/ iptek lebih dominan dengan kemungkinan masih percaya kepada hal-hal yang bersifat super natural. Rasio dan iman, iptek dan agama berjalan bersam-sama walaupun iptek sudah semakin maju.
b. Manusia selalu bertanya
Manusia di dalam dirinya mempunyai suatu dorongan yang disebut dorongan ingin tahu (curiousity). Adanya dorongan ingin tahu ini menyebabkan manusia selalu bertanya tentang segala sesuatu yang menyentuh panca inderanya maupun pikirannya.
Selama hidupnya menusia terus bertanya dan menuntut jawaban sehingga IPTEK selalu berkembang. Hewan tidak mempunyai pikiran dan dorongan ingin tahu. Yang ada pada hewan hanyalah naluri yaitu suatu dorongan untuk melestarikan kelangsungan hidupnya.
c. IPA dan teknologi
Alfin Toffler dalam bukunya, The future shock, membagi masa sejarah manusia dalam tiga gelombang:
1). Gelombang agraria
Gelombang ini ditandai dengan pertanian sebagai tulang pungung perekonomian,  sumber energinya adalah tenaga hewan, manusia atau tenaga alam lainya seperti angin.
2). Gelombang industri
Gelombang industry ditandai dengan munculnya industry dan konversi energy, batu bara, minyak bumi dan gas alam, tenaga manusia dan hewan digantikan dengan mesin. Pada gelombang kedua ini IPA dan teknologi berkembang dengan pesat dan mengubah wajah kebudayaan dan perekonomian dunia. Penemuan IPA diterapkan dalam teknologi untuk membangun industry untuk menghasilkan barang-barang keperluan dalam jumlah yang besar dan dibuat dalam waktu singkat.
 Hukum pascal diterapkan untuk menghasilkan  gaya yang lebih besar untuk mengepres plat logam dan mengepak kertas. Kapal laut dan galangan kapal dibuat dari plat besi berdasarkan hukum Archimedes  sehingga kapal tetap mengapung walaupun terbuat dari besi, dll.
Teknologi sangat membantu apa dalam membuat alat-alat penelitian dan pengukuran untuk mengembang ipa yang pada gilirannya penemuan ipa diterapkan pada industry.
3). Gelombang informasi
Ciri-cirinya adalah teknologi super canggih dalam bidang informasi telekomunikasi, computer, teknologi angkasa luar, bio teknologi dan rekayasa genetika.
Mesin dan peralatan pabrik dikendalikan dan dikerjakan oleh computer dan robot. Dengan bantuan satelit, informasi menyebar keseluruh dunia dalam waktu yang bersamaan sehinggga penduduk bumi seperti menjadi satu. Rekayasa genetika atau teknologi genetika adalah segala ssesuatu yang berkaitan dengan upaya manipulasi genetika untuk segala tujuan yang dilakukan pada organisme atau makhluk hidup.
Jenis-jenis rekayasa genetika adalah sebgai berikut :
1.      Bayi tabung
2.      Artificial insemination by donor
3.      Recombinant DNA
4.      Therapeutic Abortion

2.4.3 Dampak IPA dan teknologi terhadap masyarakat
a. Kerusakan lingkungan hidup
IPTEK dikembangkan dalam bidang antariksa dan militer, menyebabkan terjadinya eksploitasi energi, sumber daya alam dan lingkungan yang dilakukan untuk memenuhi berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Gejala memanasnya bola bumi akibat efek rumah kaca (greenhouse effect) akibat menipisnya lapisan ozone, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernnya lapisan es di Kutub Utara dan Selatan Bumi dapat dijadikan sebagai indikasi dari terjadinya pencemaran lingkungan kerena penggunaan energi dan berbagai bahan kimia secara tidak seimbang. Oleh karena itu, masalah pencemaran lingkungan baik oleh karena industri maupun komsumsi manusia, memerlukan suatu pola sikap yang dapat dijadikan sebagai modal dalam mengelola dan menyiasati permasalahan lingkungan.
b. Interaksi social
Pada gelombang agrarian hubungan antara manusia dengan manusia lainnya diwarnai dengan hubungan kekeluargaan, tata krama semangat gotong royong dan lebih banyak waktu yang dipakai untuk berkomunikasi antar pribadi. Masyarakat industry mempeunyai corak yang lain. Pembangunan di kota mengakibatkan urbanisasi yang menimbulkan masalah social manusia menjadi individualitas, pergaulan dan nilai berubah, nilai lama di tinggalkan dan mengikuti nilai baru yang belum tentu benar.
c. Manusia menjadi bagian dari mesin
Manusia menciptakan teknologi untuk kepentingan manusia sendiri guna meningkatkan mutu dan jumlah produksi. Untuk itu diperlukan peralatan yang canggih dan rumit yang bekerja secara cepat dan tepat. Dalam keadaan seperti ini manusia hanya menjadi salah satu bagian dari mesin yang bekerja secara mekanis dan rutin tanpa pribadi.
d. Pengaruh teori evolusi Darwin
Pada abad 19 Darwin menerbitkan sebuah buku tentang evolusi makhluk hidup. Dalam bukunya ia mengemukakan 2 teori pokok tentang evolusi
a. Species yang ada sekarang berasal dari sepecies yang hidup masa lampau.
Sepecies adalah kumpulan makhluk hidup yang mempunyai benyak persamaan dan dapat melngsungkan perkembangbiakan satu sama lain.
b. Evolusi terjadi melalui seleksi alami
Seleksi alamiah ini terjadi karena bermacam-macam hal yang saling berkaitan antara alain: struggle of exixtence, survival of the fittest dan inheritance of variations
Teori evolusi mendorong orang untuk mencari makhluk transisi missing link antara species kera dan manusia. Ia juga menjelaskan bahwa agama bukan dating dari Tuhan, tetapi muncul dari pikiran manusia purba sebagai hasil evolusi berkembang.
e. Rekayasa genetika
Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) dalam arti paling luas adalah penerapan genetika untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaan hewan atau tanaman melalui seleksi dalam populasi dapat dimasukkan. Obyek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan.
IPTEK sangat membantu manusia untuk memudahkan dan meningkatkan mutu kehidupan. Tetapi ada sisi lain kita juga melihat keuntungan pada satu pihak menimbulkan kerugian lain. IPTEK tidak berdiri sendiri iptek tidak bebas nilai  tetapi iptek berhadapan dnegan maslah etika tentang yang baik dan yang benar, tentang bolah atau tidak boleh.

2.5 Permasalahan permasalahan dalam pendidikan dan pendidikan MIPA

2.5.1 Permasalahan dalam pendidikan

A. Masalah Mendasar Pendidikan di Indonesia
Masalah pertama adalah bahwa pendidikan, khususnya di Indonesia, menghasilkan “manusia robot”. karena pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang. Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berfikir.
Masalah kedua adalah sistem pendidikan yang top-down (dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan karena para peserta didik (murid) dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan.
Yang ketiga, dari model pendidikan yang demikian maka manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia).
B. Kualitas Pendidikan di Indonesia
Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia yaitu :
Ø    Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
Ø    Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.
Banyak faktor-faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia semakin terpuruk. Faktor-faktor tersebut yaitu :
1.                  Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
2.                  Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Kendati secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini, pada umumnya masih rendah. Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan optimal, karena pemerintah masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalismenya. Secara kuantitatif, sebenarnya jumlah guru di Indonesia relatif tidak terlalu buruk. Apabila dilihat ratio guru dengan siswa, angka-angkanya cukup bagus yakni di SD 1:22, SLTP 1:16, dan SMU/SMK 1:12.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3.                  Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan pendapatan yang rendah, terang saja banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.
Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.
4    4.           Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains.
Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia). 
5.                  Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
      Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
6.                  Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7.                  Mahalnya Biaya Pendidikan
Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk cuci tangan.
C. Solusi Pendidikan di Indonesia
secara garis besar ada dua solusi yaitu:
-                      Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
-                      Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.
Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat bangkit dari keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang berSDM tinggi, berkepribadian pancasila dan bermartabat.
2.5.2 permasalahan dalam pendidikan MIPA
Karakteristik MIPA (Ilmu Eksak) menjadi sebuah dasar untuk menentukan sebuah pandangan yang baik bagi IPA khususnya anak IPA tetapi ini sudah menjawab MIPA merupakan sebuah studi yang hanya mampu dilakukan sebagian orang dengan kata lain mempunyai stratifikasi khusus. Oleh Choiri mengatakan bahwa banyak permasalahan pembelajaran IPA yang diangkat ke media tanpa adanya inovasi pembelajaran di kelas, seakan-akan tetap bertahan bahkan jatuh pada lobang yang sama, lantas bagaimana dengan kemajuan yang kita inginkan ?
Permasalahan lain yang timbul yaitu tidak adanya media pembelajaran yang memadai untuk menjelaskan suatu konsep diluar praktikumdan observasi. Hal ini akan mempersulit anak dalam memahami konsep sehingga tak jarang anak memahami diluar konsep yang sebetulnya jadi guru harus kreatif dan inovatif.
Berdasarkan hasil monitoring kelas pada saat pembelajaran MIPA, banyak sekali masalah yang muncul yang dialami oleh guru, diantaranya :
  1. Guru tidak siap mengajar, dalam arti terkadang guru belum memahami konsep materi yang diajarkan.
  2. Kesulitan memahami pelajaran, guru sering kesulitan dalam memunculkan minat belajar anak.
  3. Kurang optimal dalam penerapan metode pembelajran yang ada. 
  4. Kesulitan memilih dan menentukan alat peraga yang sesuai dengan materi yang diajarkan
  5. Kesulitan menanamkan konsep yang benar pada siswa dan sering bersifat verbalistik.
Kegiatan membenahi motivasi dan prestasi merupakan kegiatan awal pembelajaran. Kegiatan itu perlu dirancang sebaik mungkin guna mengkoordinasikan murid-murid untuk “siap” belajar, menerima pelajaran dengan bertanya dan menggali ilmu pengetahuan yang akan dipelajari. Kegiatan yang bisa memberikan motivasi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan, misalnya metode ceramah (bercerita), peragaan, demonstrasi, dan sosiodrama dengan bermain peran, serta metode tanya jawab. Pada kegiatan memberikan motivasi, guru hendaknya memberikan pertanyaan awa yang mengarahkan pada materi yang akan dibahas, sehingga muncul berbagai opini anak tentang bebagai macam pelajaran. Hal ini penting sekali bagi murid untuk menghilangkan pola pembelajaran DDCH (duduk, dengar, catat dan hapal). Pola pembelajaran
  1.  DDCH punya kelemahan, yaitu : kurangnya interaksi guru sehingga murid dapat menurunkan motivasi anak belajar 
  2.  murid apatis karena tidak ada keaktifan terlihat dalam proses pembelajaran. 
  3.  murid kesulitan memahami konsep materi pelajaran 
  4. munculnya trauma murid kepada guru yang mengajar 
  5. materi pelajaran yang diserap murid masuk dalam ingatan jangka pendek alias STM (short time memory). 
  6. prestasi pembelajaran MIPA siswa cenderung menurun.
Untuk mengurangi bebagai permasalahan diatas, guru dapat mengembangkan pendekatan pembelajaran “PAKEMI” yaitu pembelajaran aktif, kreatif, enak, menyenangkan dan inofatif. Pendekatan pembelajaran PAKEMI paling tidak dapat membawa angin perubahan dalam pembelajaran, yaitu :
1.                  guru dan murid sama-sama aktif dan terjadi interaksi timbal balik antar keduanya.
2.                  guru dan murid dapat mengembangkan kreatifitasnya dalam pembelajaran.
3.                  murid merasa senagn dan nyaman dalam pembelajaran
4.                  munculnya pembahasan dalam pembelajaran di kelas.

DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Sudrajat. 2012. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Matematika. http://ahmadsudrajat.wordpress.com/2012/pendekatan-dan-metode-pembelajaraMIPA. Diaksesnya 27 november 2013:02:08 WIT
Noviana Putri. 2012. Makalah Keterkaitan Mipa Dengan Teknologi Dan Masyarakat. http://novianaputrireg037.blogspot.com/2012/12/makalah-keterkaitan-mipa-dengan-teknologi-dan-masyarakat.html. Diakses 27 november 2013:15:15 WIT.
Purwoto. 2003. Srategi Pembelajaran Matematika. Surakarta: Sebelas Maret University http://Purwoto.blogspot.com/2001/05/PressTim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaraan Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.Diakses 28 November 2013 :05:45 WIT.
Sipahutar Hengky. 2013. Pendekatan Strategi Metode Pembelajaran IPA di SD. http://henkycememew.blogspot.com/search/label/BerbagaiPendekatanStrategi Metode Pembelajaran IPA SD. Diakses tanggal 27 November 2013:22:30 WIT.
Rahmad Riski. 2012. Makalah Permasalahan Pendidikan. Brawijaya University. http://rizkiramadhanunisma.blogspot.com/2013/01/makalah-permasalahan-pendidikan-di.html. Diakses 4 desember 2013:02:09 WIT

Alhidayah  Nur. 2010. Permasalahan Pembelajaran MIPA.
                         http://mtss-alhidayah.blogspot.com/2010/03/permasalahan-pembelajaran-ipa-d. Diakses 4 desember 2013: 02:34 WIT






Tidak ada komentar:

Posting Komentar