2.1 Pendekatan Dan Metode Pembelajaran Matematika
Ada beberapa model pendekatan dalam metode pendekatan mipa2.1.1 Pendekatan Spiral
Pendekatan
dalam proses belajar mengajar, merupakan suatu konsep atau prosedur yang digunakan
dalam membahas suatu bahan pelajaran untuk mencapai tujuan belajar mengajar.
Salah salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam pelajaran matematika
adalah pendekatan spiral. Soedjana (1986) mengatakan bahwa pendekatan spiral
adalah pendekatan yang dipakai untuk mengajarkan konsep. Selanjutnya dikatakan
bahwa pendekatan spiral materi tidak diajarkan dari awal sampai selesai dalam
sebuah selang waktu, tetapi diberikan dalam beberapa selang waktu yang
terpisah-pisah.
Pada
selang waktu pertama konsep diajarkan secara sederhana, misalnya dengan cara
intuitif melalui benda-benda konkret atau gambar-gambar sesuai dengan kemampuan
murid. Pada tahap berikutnya konsep yang diajarkan secara sederhana dapat diperluas
lagi. Sehingga murid dalam belajar matematika dapat dilakukan secara singkat dapat dikatakan
pendekatan spiral merupakan suatu prosedur yang dimulai dengan cara sederhana
dari konkret ke abstrak, dari cara intuitif ke analisa dari eksplorasi
(penyelidikan) kepenguasaan dalam jangka waktu yang cukup lama, dalam waktu
yang terpisah-pisah mulai dari tahap yang paling rendah ke tahap yang paling
tinggi.
Uraian
diatas dapat diperjelas dengan materi fungsi berikut ini. Fungsi pada mulannya
diperkenalkan kepada siswa SD dalam bentuk = 4+7, kemudian diperluas lagi pada
waktu siswa berada di SMP dengan mengan menggunakan notasi y=4x+7, dan
selanjutnya pada waktu siswa berada di SMA mungkin dapat diperluas lagi menjadi
y=f(x).
2.1.2
Pendekatan Deduktif
Pendekatan
deduktif berdasarkan pada penalaran deduktif soedjana (1986) mengatakan bahwa
pendekatan deduktif merupakan cara berpikir untuk menarik kesimpulan dari hal
yang umum menjadi khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Dalam silogisme ini biasanya
terdiri dari dua pernyataan yang benar dan sebuah kesimpulan (konklusi). Kedua
pernyataan pendukung silogisme itu disebut premis (hipotesis) yang dibedakan
menjadi dua bagian, yaitu premis mayor dan premis minor. Dari kedua premis
inilah diperoleh sebuah kesimpulan.
Pada
hakikatnya matematika merupakan suatu ilmu yang diadakan atas akal (rasio) yang
berhubungan dengan benda-benda yang membutuhkan pemikiraan abstrak. Disamping
itu dapat dipahami pula, bahwa matematika itu adalah ilmu yang deduktif
sehingga mengajarkannya juga harus menggunakan pendekatan deduktif
ruseffendi(1998) mengatakan bahwa pendekatan deduktif tidak asing lagi bagi kita
sebab pendekatan itu merupakan cirri khas dari pengajaran matematika.
2.1.3 Pendekatan Induktif
Pendekatan
induktif merupakan suatu proses berpkir yang dilakukan dengan cara tertentu
untuk menarik kesimpulan. Soedjana (1986) mengatakan bahwa pendekatan induktif
adalah pendekatan yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan, baik yang dilakukan
dengan pendekatan ini, diperlukan percobaan secara empiris. Proses penalaran
tersebut disebut penalaran induktif.
2.1.4 Pendekatan Formal
Sebelum adanya program pengajaan matematika modern, geometri diajarkan
di SMP dan SMA deduktif normal, pengajarannya mirip dengan apa yang diajarkan
oleh Euclid dua ribu tahun yang lalu diyunani. Cara deduktif itu sesuai dengan
sistemnya. Suatu system formal dengan unsur-unsur atau istilah-istilah yang
tidak didefinisikan.
Kemudian dibuat definisi-difinisi mengenai unsure-unsur atau
istilah-istilah itu dan ditetapkan sejumlah anggapan dasar atau aksioma yang
merupakan pernyataan-pernyataan mengenai unsur-unsur itu fakta-fakta atau
dalil-dalil dalam system ini menyusun sebagai konsekuensi logis dengan
penalaran deduktif.
Banyak sifat dalil yang diturunkan, hal ini harus dibuktikan
kebenarannya jika sudah terbukti benar, maka dalil atau sifat itu berlaku
secara umum dalam sistemnya. Dalam system ini tidak ada kontradiksi, sehingga
matematika biasa disebut ilmu dedukif.
2.1.5 Pendekatan Kontekstual
Russefendi dalam ismail (2002) mengatakan bahwa pendekatan adalah
suatu jalan cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam
pencapaian tujuan pembelajaran. Apabila melihatnya dari sudut pembelajaran
matematika antara lain cara belajar siswa aktif (CBSA).
Pendekatan kontekstual adalah istilah lain dari pendekatan cara
belajar siswa aktif sebab apa yang dilakukan dalam pendekatan CBSA adalah sama dengan
apa yang ada didalam pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual ini sebagai
salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang terdapat dalam kurikulum
berbasis kompetensi. Pada prinsipnya kurikulum tersebut mengisyaratkan kepada
kita, agar dalam pembelajaran matematika disekolah, guru membawa siswa ke dalam
dunia nyata. Dengan kata lain, proses pembelajaran selalu digunakan dengan
konkret yang ada di lingkungan siswa.
2.2 Pendekatan dan Metode dalam Pembelajaran IPA
Pendekatan pembelajaran adalah titik tolak (guru) terhadap
proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran.
a). Pendekatan Ekspositori
Pendekatan ini lebih bersifat “memberi tahu”. Artinya guru
lebih dominan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini siswa bersifat pasif,
hanya menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Yang dilakukan guru
pada pendekatan ini umumnya adalah memberi ceramah, mendemonstrasikan sesuatu
dan lain-lain.
Keuntungan
dengan menggunakan pendekatan ini adalah bahwa bahan pelajaran dapat
diselesaikan dengan cepat dan dimengerti oleh siswa. Pendekatan ini dapat
digambarkan sebagai DDCH (Duduk, Dengar, Catat, Hafal). Sehingga dalam
pendekatan ini gurunya aktif sedangkan siswanya pasif.
b). Pendekatan Inkuari
Pendekatan ini lebih bersifat “mencari tahu”. Artinya siswa
sangat aktif mencari sendiri informasi yang ia perlukan. Dalam pendekatan ini
dominasi guru lebih sedikit. Dari penjelasan tersebut, dapat kita ketahui bahwa
pendekatan inkuari bertolak belakang dengan pendekatan ekspositori. Pendekatan
ini menginginkan keaktifan siswa untuk memperoleh informasi sampai menemukan
konsep-konsep IPA. Dalam pendekatan ini guru membimbing siswa menemukan sendiri
konsep-konsep itu melalui kegiatan belajarnya.
Ditinjau
dari kadar keterlibatan guru dalam pembelajaran, pendekatan ini terdiri dari :
Ø Pendekatan Free Discovery (Penemuan
Bebas)
Dengan
pendekatan ini siswa diberi kebebasan untuk memilih sendiri masalah yang akan
dipelajari maupun cara untuk memecahkan masalah tersebut. Pendekatan ini cocok
bagi mereka yang sudah memiliki kemampuan untuk berfikir formal. Namun menurut
pengalaman piaget, ternyata tidak banyak anak usia SD yang sudah mencapai
tingkat pemikiran semacam itu.
Ø Pendekatan Guide Discovery (Penemuan
Terbimbing)
Pendekatan
ini dapat dikatakan sebagai gabungan dari pendekatan ekspositori dengan
inkuari, tujuannya adalah untuk mendapatkan efektivitas yang optimal khususnya
bagi anak usia SD. Carin dan Sund (1985) mengatakan anak-anak yang masih sangat
muda, perlu mendapat bimbingan guru yang relatif besar.
Pendekatan
ini merupakan pendekatan yang paling tepat digunakan untuk anak usia SD. Dalam
hal ini siswa aktif melakukan eksplorasi atau observasi atas bimbingan guru.
Kegiatan ini dapat meningkatkan intelektual siswa, dan hasil belajar menjadi
lebih tinggi serta dapat mengembangkan sikap positif terhadap IPA.
Ø Pendekatan Eksploratory Discovery
(Penemuan Eksploratorik)
Dalam pendekatan ini tugas guru antara lain:
Dalam pendekatan ini tugas guru antara lain:
- Melontarkan masalah-masalah dan mengundang siswa untuk memecahkan masalah tersebut.
- Memberi motivasi belajar.
- Membantu siswa yang benar-benar memerlukan agar tidak mengalami jalan buntu atau frustasi
- Bila perlu, guru sebagai narasumber.
Keuntungan
dengan menggunakan pendekatan ini antara lain:
- Dapat memberi kemampuan awal kepada siswa untuk melakukan sendiri suatu penelitian.
- Dapat memacu keberanian siswa untuk melakukan penelitian secara mandiri dimasa yang akan datang.
c). Pendekatan Proses
Pendekatan ini senada dengan
pendekatan inkuari, karena pendidikan ini
menginginkan keaktifan siswa dan juga guru tidak
dominan dalam proses pembelajaran tetapi bertindak sebagai organisator dan
fasilitator saja.
Pendekatan
ini memiliki ciri-ciri khusus:
- Ilmu pengetehuan tidak dipandang sebagai produk semata tetapi sebagai proses
- Siswa dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan memproses informasi dalam pikirannya.
d). Pendekatan Konsep
Konsep adalah suatu ide yang menghubungkan beberapa fakta.
Dalam pencapaian atau pembentukan konsep biasanya peserta didik memerlukan
benda-benda konkrit untuk diotak-atik, eksplorasi fakta-fakta dan ide-ide
secara mental. Pendekatan konsep memerlukan lebih dari sekedar menghafal, lebih
menunjukkan gambaran yang lebih tepat tentang IPA.
e). Pendekatan Factual
Pendekatan ini menekankan penemuan fakta-fakta dalam IPA .
contoh informasi yang didapatkan murid dengan pendekatan ini, misalnya ular
termasuk golongan reptil, merkurius adalah planet yang terdekat dengan
matahari. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah membaca, mengulang,
melatih dan lain-lain. Pada dasarnya pembelajaran IPA dengan pendekatan
ini akan menimbulkan kebosanan pada diri murid-murid dan tidak memberikan
gambaran yang benar tentang IPA.
Metode adalah cara yang digunakan oleh guru untuk
mengaplikasikan strategi belajar yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan.
Berikut
ini adalah beberapa metode pembelajaran ipa di sd :
1) Metode Diskusi
1) Metode Diskusi
Metode
diskusi adalah metode dimana guru membagi siswa dalam beberapa kelompok,
kemudian memberikan suatu persoalan atau masalah untuk dipecahkan secara
bersama-sama dengan teman satu kelompoknya.
Ciri-ciri
metode ini adalah :
·
Siswa
dibagi dalam beberapa kelompok
·
Ada
permasalahan yang sedang dicarikan solusinya
·
Ada
yang menjadi pemimpin
·
Ada
proses tukar pendapat
·
Ada
hasil diskusi.
2) Metode Demonstrasi
2) Metode Demonstrasi
Metode
demonstrasi adalah metode mengajar yang digunakan guru dengan menggunakan
peragaan untuk memperjelas suatu pengertian ataupun konsep-konsep IPA kepada
siswa. Metode mengajar yang seperti ini sangat disukai oleh siswa karena adanya
pergerakan pada proses belajar-mengajar.
3) Metode Tanya Jawab
3) Metode Tanya Jawab
Metode
Tanya jawab adalah cara penyajian bahan ajar dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan
yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Kelebihan
metode ini adalah:
- Suasana belajar yang lebih aktif
- Siswa memperoleh kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami
- Guru dapat mengetahui tingkat penguasaan peserta didik secara langsung
- Dapat melatih siswa untuk mengemukakan pendapat secara lisan.
Kelemahan
metode ini adalah :
- Pertanyaan yang diberikan cenderung meminta jawaban yang bersifat hafalan
- Guru sulit mengetahui secara pasti tentang siswa yang tidak mengajukan pertanyaan, apakah sudah menguasai atau belum
Metode
ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan tidak asing lagi
dan telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan. Cara ini kadang membosankan,
maka dalam pelaksanaannya memerlukan keterampilan tertentu, agar penyajiannya
tidak membosankan dan dapat menarik perhatian siswa.
Kelebihan metode ini adalah :
Kelebihan metode ini adalah :
- Merupakan metode yang murah dan mudah
- Dapat menyajikan materi yang pelajaran yang luas
- Dapat mengontrol keadaan kelas
- Dapat diikuti jumlah siswa yang besar
- Dapat menyelesaikan materi pelajaran dengan cepat.
Kelemahan
metode ini adalah :
- Materi yang dikuasai siswa akan terbatas pada apa yang dikuasai guru
- Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, maka siswa akan merasa bosan
- Guru sulit mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti tentang materi yang sudah dijelaskan oleh guruCenderung membuat siswa pasif.
5)Metode
Eskperimen
Metode
pembelajaran eksperimen adalah cara pengelolaan pembelajaran dimana siswa
melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri konsep
IPA yang dipelajarinya.
6). Metode Study Tour
Metode
ini adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu
objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan
dan mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan dengan didampingi oleh
pendidik.
7). Metode Resitasi
7). Metode Resitasi
Metode pembelajaran resitasi adalah
metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat
sendiri.
2.3 Perbedaaan Pendekatan dan Metode Pembelajaran Matematika dan IPA.
Metode dibedakan dari pendekatan. Pendekatan lebih menekankan
pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode lebih menekankan pada teknik
pelaksanaannya.
Satu
pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dalam pelaksanaan
proses tersebut digunakan beberapa metode. Sebagai contoh dalam pembelajaran
pencemaran lingkungan. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut
dapat dipilih dari beberapa pendekatan yang sesuai, antara lain pendekatan
lingkungan. Ketika proses pembelajaran pencemaran lingkungan dilaksanakan
dengan pendekatan lingkungan tersebut dapat digunakan beberapa metode, misalnya
metode observasi, metode didkusi dan metode ceramah. Supaya lebih jelas ikuti
perencanaan yang dilakukan oleh seorang guru ketika akan memberi pembelajaran
pencemaran lingkungan tersebut. Pada awalnya ia memilih pendekatan lingkungan,
berarti ia akan menggunakan lingkungan sebagai fokus pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran melalui konsep pencemaran lingkungan
siswa akan memahami tentang lingkungan sekitarnya apakah sudah tercemar atau
tidak. Untuk merealisasikan hal tersebut ia menggunakan metode diskusi dan
ceramah. Dalam pembelajarannya ia membuat suatu masalah untuk didiskusikan oleh
siswa kemudian ia akan mengakhiri pembelajaran tadi dengan memberi informasi
yang berkaitan dengan hasil diskusi.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa metode dan
pendekatan dirancang untuk mencapai keberhasilan suatu tujuan pembelajaran.
Metode
pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan
guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode
pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat
dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa
metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
Terdapat tiga perbedaan pandangan mendasar dalam
pembelajaran.
Pertama,
yang semula memandang matematika hanya sebagai pengetahuan dan prosedur yang
harus diajarkan, menjadi suatu keterkaitan ide-ide dan proses melakukan
penalaran.
Kedua,
belajar yang semula dipandang sebagai aktivitas individu untuk menguasai
prosedur melalui penjelasan guru, menjadi aktivitas berkolaborasi untuk
memperoleh pemahaman dengan usaha sendiri.
Ketiga, mengajar yang semula berupa
penyampaian kurikulum secara terstruktur, menjelaskan materi, dan mengoreksi
kekeliruan siswa, menjadi menggali pengetahuan melalui dialog, menyajikan
permasalahan tanpa diawali dengan penjelasan atau contoh, dan ketidakpahaman
siswa dijadikan titik awal untuk pembenaran pengetahuan yang perlu dipahami
siswa.
Pendekatan dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.
Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung
(direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori.
Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi
pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif
(Sanjaya, 2008:127).
Metode
merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam
berbagai metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke
pencapaian tujuan. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode
pembelajaran.
Ditinjau dari cara penyajian dan
cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi
pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih
konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode
pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of
operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in
achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat
diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang
sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
1)
ceramah;
2)
demonstrasi;
3)
diskusi;
4)
simulasi;
5)
laboratorium;
6)
pengalaman
lapangan;
7)
brainstorming;
8)
debat,
9)
simposium,
dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran
dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik
pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode
ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik
tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode
ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan
penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang
siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal
ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang
sama.
Kembali ke pembelajaran, guru dapat berkreasi dengan berbagai model pembelajaran yang khas secara menarik, menyenangkan, dan bermanfaat bagi siswa. Model guru tersebut dapat pula berbeda dengan model guru disekolah lain meskipun dalam persepsi pendekatan dan metode yang sama.Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, model, dan teknik secara spesifik. Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa sebenarnya aspek yang juga paling penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah penguasaan model pembelajaran.
Kembali ke pembelajaran, guru dapat berkreasi dengan berbagai model pembelajaran yang khas secara menarik, menyenangkan, dan bermanfaat bagi siswa. Model guru tersebut dapat pula berbeda dengan model guru disekolah lain meskipun dalam persepsi pendekatan dan metode yang sama.Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, model, dan teknik secara spesifik. Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa sebenarnya aspek yang juga paling penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah penguasaan model pembelajaran.
2.4 Keterkaitan MIPA dengan Teknologi dan Masyarakat
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki dua aspek
yaitu teori dan pengamatan yang harus terkait. Keterkaitan antara MIPA dengan
masyarakat adalah tidak langsung, yang terkait langsung adalah teknologi.
Teknologi berperan untuk mengubah dan menguasai dunia fisik, sedangkan
pengetahuan digunakan untuk memahami kejadian – kejadian dunia fisik. Kegiatan
teknologi inilah proses memproduksi barang dan jasa yang juga menghasilkan
sejumlah konsep dan metode mengenai proses produksi tersebut. Akibatnya
kemajuan teknologi membawa dampak terhadap kehidupan manusia baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Secara tidak langsung dari perkembangan MIPA dan
teknologi memunculkan cabang – cabang ilmu pengetahuan yang baru. Dengan
menggunakan cabang – cabang pengetahuan baru tersebut kita dapat memperoleh
hasil,misalnya:
·
Penggunaan teknik kimia
·
Penggunaan teknologi hutan
Pengaruh
langsung teknologi masyarakat ialah masalah teknologi tepat guna. Jadi
pengetahuan dan teknologi menyajikan kemudahan – kemudahan, kemakmuran,
kenyamanan. Namun demikian juga memiliki pengaruh baik maupun buruk. Dari
pengalaman diketahui bahwa manusia menguasai pengetahuan dan teknologi akan
semakin makmur kehidupannya juga bagi negaranya. Namun demikian dampak negatif
yang paling menonjol karena adanya teknologi yaitu masalah pengendalian diri
bagi manusia yang bersangkutan tersebut.
IPA diperoleh melalui kerja sama antara pengalaman
empiris dan pemikiaran teoristis rasional. Di dalam ipa kita menemukan banyak
seklai besaran, besaran ialah segala sesuatu yang dapat diukur atau di hitung.
Besaran-besaran tersebut selalu dapat dinyatakan dalam suatu kuantitas. maka
IPA tidak lepas dari persoalan mengukur dan menghitung. Mengukur dan menghitung
siuatu besaran berhubungan dengan harga atau besarnya besaran itu. besaran yang
hanya mempunyai harga saja disebut besaran skalar. Itulah sebabnya matematika
memegang peran penting dalam ipa terutama fisika. hasil eksperimen yang mencari
hubungan antara dua buah besaran dapat dirumuskan dalam bentuk matematika.
sebaliknaya pembahasan suatu gejala alamaiah secara teoristis matematika dapat
menjelaskan fakta alamiah.
2.4.2 Peran IPA Dalam Teknologi Dan
Masyarakat
Peradaban manusia selalu bertumbuh
dan berkembang, suatu bangsa mempengaruhi beradaban bangsa lain. Tidak ada
suatau bangsa yang peradabannya maju dari dirinya sendiri. Setiap bangsa saling
mempengaruhi memperkaya kebudayaan masing-masing bangsa yang terisolasi dengan
bangsa-bangsa lain
a. Jenis-jenis
pengetahuan
Pengetahuan manusia dapat digolongkan atas 4 jenis
pengetahuan.
1. Pengetahuan takhayul
atau mitos
Mitos adalah suatu penjelasan atas fakta yang tidak
ada kebenarannya hanya diduga dan dipercaya begitu saja. Semua suku bangsa pada
jamn dahulu mempunyai mitos dan legenda. Legenda adalah cerita rakyat yang
berdasarkan mitos. Manusia tidak sanggup menjelaskan secara benar dan ilmiah
tentang segala sesuatu yang diamati maka muncullah penjelasan yang brsifat
tahayul
2. Pengetahuan ilmiah
Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang di peroleh
melalui penelitian dengan pengamatan panca indra dan penalaran akal budi
disusun secara sistematis untuk menjelaskan fakta yang sedang dihadapi, yang
merangsang panca indra dan pikiran manusia.
3. Pengetahuan Super-Natural
Pengetahuan Super-Natural adalah pengetahuan yang
tidak termasuk pada takhayul dan pengetahuan ilmiah, namun mempunyai fakta.
Pengetahuan super natural tidak dapat dijangkau dengan panca indra maupun akal
budi, sifatnya tradisional (diluar jangkauan akal budi). Karena itu pengetahuan
ini tidak di tanggapi dengan iman, sifatya sangat pribadi dan menyangkut
hak-hak asasi manusia.
Secara ilmiah ditusuk dengan pisau seharusnya pisau
menembus bagian tubuh yang ditusuk. Tetapi kenyataanya ada orang yang ditusuk
tidak luka sedikitpun. Pengetahuan dari agama, termasuk pengetahuan super
natural, menyangkut iman dan hak-hak azasi manusia.
4. Pengetahuan
ilmiah semu
Pengetahuan ilmiah semu adalah pengetahuan yang
berdasarkan fakta ilmiah tetapi dicampur dengan kepercayaan dan hal-hal yang
bersifat super-natural. Contohnya ilmu perbintangan yang dihubungkan dengan
kepercayaan ramalan nsib disebut astrologi. Astrologi bukan pengetahuan ilmiah
melainkan pseudoscience.
Pada zaman dahulu zaman dahulu ketika manusia hidup
pada tingkat primitive wilayah mitos dan super natural menguasai dan lebih
dominan dari pada wilayah rasio.
Makin maju taraf pemikiran dan kebudayaan manusia,
wilayah rasio/ iptek lebih dominan dengan kemungkinan masih percaya kepada
hal-hal yang bersifat super natural. Rasio dan iman, iptek dan agama berjalan
bersam-sama walaupun iptek sudah semakin maju.
b. Manusia selalu
bertanya
Manusia di dalam dirinya mempunyai suatu dorongan yang
disebut dorongan ingin tahu (curiousity). Adanya dorongan ingin tahu ini
menyebabkan manusia selalu bertanya tentang segala sesuatu yang menyentuh panca
inderanya maupun pikirannya.
Selama hidupnya menusia terus bertanya dan menuntut
jawaban sehingga IPTEK selalu berkembang. Hewan tidak mempunyai pikiran dan
dorongan ingin tahu. Yang ada pada hewan hanyalah naluri yaitu suatu dorongan
untuk melestarikan kelangsungan hidupnya.
c. IPA dan teknologi
Alfin Toffler dalam bukunya, The future shock, membagi
masa sejarah manusia dalam tiga gelombang:
1). Gelombang agraria
Gelombang ini ditandai dengan pertanian sebagai tulang
pungung perekonomian, sumber energinya adalah tenaga hewan, manusia atau
tenaga alam lainya seperti angin.
2). Gelombang industri
Gelombang industry ditandai dengan munculnya industry
dan konversi energy, batu bara, minyak bumi dan gas alam, tenaga manusia dan
hewan digantikan dengan mesin. Pada gelombang kedua ini IPA dan teknologi
berkembang dengan pesat dan mengubah wajah kebudayaan dan perekonomian dunia.
Penemuan IPA diterapkan dalam teknologi untuk membangun industry untuk
menghasilkan barang-barang keperluan dalam jumlah yang besar dan dibuat dalam
waktu singkat.
Hukum pascal diterapkan untuk menghasilkan
gaya yang lebih besar untuk mengepres plat logam dan mengepak kertas. Kapal
laut dan galangan kapal dibuat dari plat besi berdasarkan hukum
Archimedes sehingga kapal tetap mengapung walaupun terbuat dari besi,
dll.
Teknologi sangat membantu apa dalam membuat alat-alat
penelitian dan pengukuran untuk mengembang ipa yang pada gilirannya penemuan
ipa diterapkan pada industry.
3). Gelombang informasi
Ciri-cirinya adalah teknologi super canggih dalam
bidang informasi telekomunikasi, computer, teknologi angkasa luar, bio
teknologi dan rekayasa genetika.
Mesin dan peralatan pabrik dikendalikan dan dikerjakan
oleh computer dan robot. Dengan bantuan satelit, informasi menyebar keseluruh
dunia dalam waktu yang bersamaan sehinggga penduduk bumi seperti menjadi satu.
Rekayasa genetika atau teknologi genetika adalah segala ssesuatu yang berkaitan
dengan upaya manipulasi genetika untuk segala tujuan yang dilakukan pada
organisme atau makhluk hidup.
Jenis-jenis rekayasa genetika adalah sebgai berikut :
1. Bayi tabung
2. Artificial
insemination by donor
3. Recombinant DNA
2.4.3 Dampak IPA dan teknologi terhadap masyarakat
a. Kerusakan
lingkungan hidup
IPTEK
dikembangkan dalam bidang antariksa dan militer, menyebabkan terjadinya
eksploitasi energi, sumber daya alam dan lingkungan yang dilakukan untuk
memenuhi berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya
sehari-hari. Gejala memanasnya bola bumi akibat efek rumah kaca (greenhouse
effect) akibat menipisnya lapisan ozone, menciutnya luas hutan tropis, dan
meluasnya gurun, serta melumernnya lapisan es di Kutub Utara dan Selatan Bumi
dapat dijadikan sebagai indikasi dari terjadinya pencemaran lingkungan kerena
penggunaan energi dan berbagai bahan kimia secara tidak seimbang. Oleh karena
itu, masalah pencemaran lingkungan baik oleh karena industri maupun komsumsi
manusia, memerlukan suatu pola sikap yang dapat dijadikan sebagai modal dalam
mengelola dan menyiasati permasalahan lingkungan.
b. Interaksi
social
Pada
gelombang agrarian hubungan antara manusia dengan manusia lainnya diwarnai
dengan hubungan kekeluargaan, tata krama semangat gotong royong dan lebih
banyak waktu yang dipakai untuk berkomunikasi antar pribadi. Masyarakat
industry mempeunyai corak yang lain. Pembangunan di kota mengakibatkan
urbanisasi yang menimbulkan masalah social manusia menjadi individualitas,
pergaulan dan nilai berubah, nilai lama di tinggalkan dan mengikuti nilai baru
yang belum tentu benar.
c. Manusia
menjadi bagian dari mesin
Manusia
menciptakan teknologi untuk kepentingan manusia sendiri guna meningkatkan mutu
dan jumlah produksi. Untuk itu diperlukan peralatan yang canggih dan rumit yang
bekerja secara cepat dan tepat. Dalam keadaan seperti ini manusia hanya menjadi
salah satu bagian dari mesin yang bekerja secara mekanis dan rutin tanpa
pribadi.
d. Pengaruh teori evolusi Darwin
Pada abad 19
Darwin menerbitkan sebuah buku tentang evolusi makhluk hidup. Dalam bukunya ia
mengemukakan 2 teori pokok tentang evolusi
a. Species yang ada sekarang berasal dari sepecies yang hidup masa lampau.
Sepecies adalah kumpulan makhluk hidup yang mempunyai benyak persamaan dan dapat melngsungkan perkembangbiakan satu sama lain.
a. Species yang ada sekarang berasal dari sepecies yang hidup masa lampau.
Sepecies adalah kumpulan makhluk hidup yang mempunyai benyak persamaan dan dapat melngsungkan perkembangbiakan satu sama lain.
b. Evolusi terjadi melalui seleksi alami
Seleksi alamiah ini terjadi karena bermacam-macam hal yang saling berkaitan antara alain: struggle of exixtence, survival of the fittest dan inheritance of variations
Seleksi alamiah ini terjadi karena bermacam-macam hal yang saling berkaitan antara alain: struggle of exixtence, survival of the fittest dan inheritance of variations
Teori
evolusi mendorong orang untuk mencari makhluk transisi missing link antara
species kera dan manusia. Ia juga menjelaskan bahwa agama bukan dating dari
Tuhan, tetapi muncul dari pikiran manusia purba sebagai hasil evolusi
berkembang.
e. Rekayasa
genetika
Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering)
dalam arti paling luas adalah penerapan genetika untuk
kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaan hewan atau tanaman melalui
seleksi dalam populasi dapat dimasukkan. Obyek rekayasa genetika mencakup
hampir semua golongan organisme, mulai dari
bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat
tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan.
IPTEK sangat
membantu manusia untuk memudahkan dan meningkatkan mutu kehidupan. Tetapi ada
sisi lain kita juga melihat keuntungan pada satu pihak menimbulkan kerugian
lain. IPTEK tidak berdiri sendiri iptek tidak bebas nilai tetapi iptek
berhadapan dnegan maslah etika tentang yang baik dan yang benar, tentang bolah
atau tidak boleh.
2.5 Permasalahan permasalahan dalam pendidikan dan pendidikan MIPA
2.5.1 Permasalahan dalam pendidikan
A. Masalah Mendasar Pendidikan di
Indonesia
Masalah pertama adalah
bahwa pendidikan, khususnya di Indonesia, menghasilkan “manusia robot”. karena
pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak
seimbang. Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar
yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur
integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal
belajar tidak hanya berfikir.
Masalah kedua adalah
sistem pendidikan yang top-down (dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan
istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah
pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan karena
para peserta didik (murid) dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa.
Guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara
mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan.
Yang ketiga, dari model
pendidikan yang demikian maka manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap
untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya.
Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena
yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia
tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia).
B. Kualitas Pendidikan di Indonesia
Ada dua faktor yang mempengaruhi
kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia yaitu :
Ø Faktor
internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan
Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis
depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah
dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
Ø Faktor
eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan
dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari
pendidikan.
Banyak faktor-faktor yang
menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia semakin terpuruk. Faktor-faktor
tersebut yaitu :
1.
Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik
misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak,
kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak
lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi
tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki
gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan
sebagainya.
2.
Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di
Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme
yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU
No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai
hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan
penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Kendati secara
kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu
guru di negara ini, pada umumnya masih rendah. Secara umum, para guru di
Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan optimal, karena pemerintah
masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan
profesionalismenya. Secara kuantitatif, sebenarnya jumlah guru di Indonesia
relatif tidak terlalu buruk. Apabila dilihat ratio guru dengan siswa,
angka-angkanya cukup bagus yakni di SD 1:22, SLTP 1:16, dan SMU/SMK 1:12.
Walaupun guru dan
pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi,
pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin
kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas
pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang
rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3.
Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan
guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia.
Dengan pendapatan yang rendah, terang saja banyak guru terpaksa melakukan
pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada
sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang
pulsa ponsel, dan sebagainya.
Dengan adanya UU Guru
dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10
UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan
guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain
meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi,
dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan
tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak
atas rumah dinas.
4 4.
Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang
demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru)
pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian
prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat
rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004),
siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi
matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains.
Dalam skala
internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA
(Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di
Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada
peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong),
74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).
5.
Kurangnya Pemerataan Kesempatan
Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan
masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan
Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan
Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4%
(28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka
Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta
siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas.
Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan
sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan
dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah
ketidakmerataan tersebut.
6.
Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan
Kebutuhan
Hal tersebut dapat
dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang
dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang
dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar
36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup
tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%.
Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak
putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan
masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil
pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya
kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik
memasuki dunia kerja.
7.
Mahalnya Biaya Pendidikan
Hal senada dituturkan
pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan
merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh
negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan
Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan.
Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang
wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah
negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.
Pendidikan berkualitas
memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis.
Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya
yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan
menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan
tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab.
Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk
cuci tangan.
C. Solusi Pendidikan di Indonesia
secara garis besar ada dua solusi
yaitu:
-
Solusi sistemik, yakni solusi dengan
mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti
diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang
diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam
konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip
antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik,
termasuk pendanaan pendidikan.
-
Solusi teknis, yakni solusi yang
menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini
misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Solusi untuk masalah-masalah
teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas
sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi
peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan
ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan
untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi
solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran,
meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.
Maka dengan adanya
solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat bangkit dari
keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang berSDM
tinggi, berkepribadian pancasila dan bermartabat.
2.5.2
permasalahan dalam pendidikan MIPA
Karakteristik MIPA
(Ilmu Eksak) menjadi sebuah dasar untuk menentukan sebuah pandangan yang baik
bagi IPA khususnya anak IPA tetapi ini sudah menjawab MIPA merupakan sebuah
studi yang hanya mampu dilakukan sebagian orang dengan kata lain mempunyai
stratifikasi khusus. Oleh Choiri mengatakan bahwa banyak permasalahan
pembelajaran IPA yang diangkat ke media tanpa adanya inovasi pembelajaran di
kelas, seakan-akan tetap bertahan bahkan jatuh pada lobang yang sama, lantas
bagaimana dengan kemajuan yang kita inginkan ?
Permasalahan lain yang timbul yaitu
tidak adanya media pembelajaran yang memadai untuk menjelaskan suatu konsep
diluar praktikumdan observasi. Hal ini akan mempersulit anak dalam memahami
konsep sehingga tak jarang anak memahami diluar konsep yang sebetulnya jadi
guru harus kreatif dan inovatif.
Berdasarkan hasil monitoring kelas
pada saat pembelajaran MIPA, banyak sekali masalah yang muncul yang dialami
oleh guru, diantaranya :
- Guru tidak siap mengajar, dalam arti terkadang guru belum memahami konsep materi yang diajarkan.
- Kesulitan memahami pelajaran, guru sering kesulitan dalam memunculkan minat belajar anak.
- Kurang optimal dalam penerapan metode pembelajran yang ada.
- Kesulitan memilih dan menentukan alat peraga yang sesuai dengan materi yang diajarkan
- Kesulitan menanamkan konsep yang benar pada siswa dan sering bersifat verbalistik.
Kegiatan membenahi motivasi dan
prestasi merupakan kegiatan awal pembelajaran. Kegiatan itu perlu dirancang
sebaik mungkin guna mengkoordinasikan murid-murid untuk “siap” belajar,
menerima pelajaran dengan bertanya dan menggali ilmu pengetahuan yang akan
dipelajari. Kegiatan yang bisa memberikan motivasi dapat dilakukan dengan
menggunakan berbagai metode dan pendekatan, misalnya metode ceramah
(bercerita), peragaan, demonstrasi, dan sosiodrama dengan bermain peran, serta
metode tanya jawab. Pada kegiatan memberikan motivasi, guru hendaknya
memberikan pertanyaan awa yang mengarahkan pada materi yang akan dibahas,
sehingga muncul berbagai opini anak tentang bebagai macam pelajaran. Hal ini
penting sekali bagi murid untuk menghilangkan pola pembelajaran DDCH (duduk,
dengar, catat dan hapal). Pola pembelajaran
- DDCH punya kelemahan, yaitu : kurangnya interaksi guru sehingga murid dapat menurunkan motivasi anak belajar
- murid apatis karena tidak ada keaktifan terlihat dalam proses pembelajaran.
- murid kesulitan memahami konsep materi pelajaran
- munculnya trauma murid kepada guru yang mengajar
- materi pelajaran yang diserap murid masuk dalam ingatan jangka pendek alias STM (short time memory).
- prestasi pembelajaran MIPA siswa cenderung menurun.
Untuk mengurangi bebagai
permasalahan diatas, guru dapat mengembangkan pendekatan pembelajaran “PAKEMI”
yaitu pembelajaran aktif, kreatif, enak, menyenangkan dan inofatif. Pendekatan
pembelajaran PAKEMI paling tidak dapat membawa angin perubahan dalam
pembelajaran, yaitu :
1.
guru dan murid sama-sama aktif dan
terjadi interaksi timbal balik antar keduanya.
2.
guru dan murid dapat mengembangkan kreatifitasnya
dalam pembelajaran.
3.
murid merasa senagn dan nyaman dalam
pembelajaran
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad
Sudrajat. 2012. Pendekatan dan Metode
Pembelajaran Matematika. http://ahmadsudrajat.wordpress.com/2012/pendekatan-dan-metode-pembelajaraMIPA.
Diaksesnya 27 november 2013:02:08 WIT
Noviana
Putri. 2012. Makalah Keterkaitan Mipa Dengan Teknologi Dan
Masyarakat. http://novianaputrireg037.blogspot.com/2012/12/makalah-keterkaitan-mipa-dengan-teknologi-dan-masyarakat.html. Diakses 27 november 2013:15:15 WIT.
Purwoto.
2003. Srategi Pembelajaran Matematika.
Surakarta: Sebelas Maret University http://Purwoto.blogspot.com/2001/05/PressTim
MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaraan Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.Diakses 28 November 2013 :05:45 WIT.
Sipahutar Hengky.
2013. Pendekatan Strategi Metode Pembelajaran IPA
di SD. http://henkycememew.blogspot.com/search/label/BerbagaiPendekatanStrategi
Metode Pembelajaran IPA SD. Diakses tanggal 27 November 2013:22:30
WIT.
Rahmad Riski. 2012. Makalah Permasalahan Pendidikan. Brawijaya University. http://rizkiramadhanunisma.blogspot.com/2013/01/makalah-permasalahan-pendidikan-di.html. Diakses 4 desember 2013:02:09 WIT
Alhidayah Nur.
2010. Permasalahan Pembelajaran MIPA.
http://mtss-alhidayah.blogspot.com/2010/03/permasalahan-pembelajaran-ipa-d. Diakses 4 desember 2013: 02:34 WIT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar