BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kurikulum merupakan desain bahan
pelajaran yang tujuannya untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran
serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Tujuan pendidikan yang dirumuskan
dapat mempengaruhi desain kurikulum, karena tujuan tersebut dapat menentukan
kerangka untuk memilih, merencanakan dan melaksanakan segala pengalaman dan
kegiatan belajar di sekolah atau madrasah.
Desain kurikulum
menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum .
Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi
horisontal dan vertikal. Dimensi horisontal berkenaan dengan penyusunan dari
lingkup isi kurikulum. Susunan lingkup ini sering diintegrasikan dengan proses
belajar dan mengajarnya. Dimensi vertikal menyangkut penyusunan bahan berdasarkan
urutan tingkat kesukaran. Bahan tersusun mulai dari yang mudah, kemudian menuju
pada yang lebih sulit, atau mulai dengan yang dasar diteruskan dengan yang
lanjutan.
Desain Kurikulum ini
mendeskripsikan secara terperinci tentang komponen yang harus ada pada setiap kurikulum
serta desain kurikulum yang dapat digunakan untuk proses pembelajaran. Wacana
tersebut menyebutkan bahwa dalam kurikulum itu terdapat beberapa komponen,
diantaranya adalah tujuan kurikulum, bahan ajar atau materi atau isi dari
kurikulum tersebut, strategi mengajar atau metode mengajar, media mengajar dan
evaluasi pengajaran serta penyempurnaan pengajaran. Komponen-komponen tersebut
saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Setiap komponen mempunyai
isi yang sangat penting sekali bagi kelangsungan kurikulum.
1.2 Maksud dan Tujuan
a.
Untuk mengetahui apa itu desain
kurikulum
b.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk desain
kurikulum
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Desain Kurikulum
Ada
beberapa Pengertian Desain Kurikulum menurut para ahli, diantaranya adalah:
Dari uraian diatas dapat diambil ke. simpulan bahwa Desain
kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar
yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam
desain kurikulum akan tergambar unsur-unsur dari kurikulum, hubungan antara
satu unsur dengan unsur lainnya, prinsip-prinsip pengorganisasian, serta
hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaannya
Beberapa ahli juga merumuskan macam-macam desain kurikulum
yaitu sebagai berikut:
Desain kurikulum memiliki beberapa model di antaranya adalah
sebagai berikut: Desain Kurikulum Disiplin Ilmu, Desain Kurikulum Berorientasi
pada Masyarakat, Desain Kurikulum Berorientasi pada Siswa
2.2 Desain Kurikulum Disiplin Ilmu
Longstreet mendefinisikan desain kurikulum merupakan desain
kurikulum yang berpusat kepada pengetahuan (the knowledge centered desain)
yang dirancang berdasarkan struktur disiplin ilmu, oleh karena itu model desain
ini juga dinamakan model kurikulum subjek akademis yang penekananny diarahkan
untuk pengembangan intelektual siswa.
Ada tiga bentuk organisisi kurikulum yang berorientasi pada
disiplin ilmu, yaitu: subject centered curriculum, correlated curriculum, integrated
curriculum. Setiap desain kurikukum memberikan teknik atau cara yang
efektif dalam proses pembelajaran agar berjalan dengan efektif dan efisien.
Tetapi tidak setiap desain kurikulum dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan
proses pembelajaran, karena setiap desain kurikulum memiliki kelebihan dan
kekurangan dalam pelaksanannya.
2.2.1
Subject Centered Curriculum
Dalam subject centered curriculum, kurikulum
dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan. Kurikulum tersusun atas
sejumlah mata-mata pelajaran, dan mata-mata pelajaran tersebut diajarkan secara
terpisah-pisah. Karena terpisah-pisahnya itu maka kurikulum ini disebut juga
separated subject curriculum.
Subject centered curriculum berkembang dari konsep
pendidikan klasik yang menekankan pengetahuan, nilai-nilai dan warisan budaya
masa lalu, dan berupaya untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Karena mengutamakan isi atau bahan ajar atau subject matter tersebut, maka desain kurikulum ini
disebut juga subject academic curriculum.
Model design curriculum ini mempunyai beberapa
kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan dari model ini adalah:
·
Mudah disusun, dilaksanakan, dievaluasi, dan
disempurnakan
·
Pengajarnya tidak perlu dipersiapkan khusus,
asal menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan sering dipandang sudah dapat
menyampaikannya.
Beberapa
kritik yang juga merupakan kekurangan model desain ini adalah
·
Karena pengetahuan diberikan secara terpisah-pisah,
hal itu bertentangan dengan kenyataan, sebab adalam kenyataan pengetahuan itu merupakan
suatu kesatuan,
·
Karena mengutamakan bahan ajar maka peran
peserta didik sangat pasif
·
Pengajaran lebih menekankan pengetahuan dan
kehidupan masa lalu, dengan demikian pengajaran lebih bersifat verbalitas dan
kurang praktis.
2.2.2
Correlated Curriculum
Pada organisasi kurikulum ini, mata pelajaran tidak disajikan
secara terpisah, akan tetapi mata pelajaran-mata pelajaran yang memiliki
kedekatan atau mata pelajaran sejenis dikelompokan sehinggan menjadi satu
bidang studi (broad field), seperti
misalnya mata pelajaran geografi, sejarah, ekonomi dikelompokan dalam bidang
studi IPS. Demikian juga dengan mata pelajaran biologi, kimia, fisika,
dikelompokkan menjadi bidang studi IPA. bahan atau isi materi kurikulum dapat
dilakukan dengan beberapa cara :
a) Pendekatan
Struktual
Dalam pendekatan ini, kajian suatu
kelompok bahasan ditinjau dari beberapa mata pelajaran sejenis. Seperti
misalnya, kajian suatu topic tentang geografi tidak senata-mata ditinjau dari
satu sudut saja, akan tetapi juga ditinjau dari sejarah, ekonomi atau mungkin
budaya.
b) Pendekatan
Fungsional
Pendekatan ini didasarkan kepada
pengkajian masalah yang berarti dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian,
suatu topic tidak diambil dari mata pelajaran tertentu akan tetapi diambil
dariapa yang dirasakan perlu untuk anak, selanjutnya topikitu dikaji oleh
berbagai mata pelajaran yang memiliki ketrkaitan. Contohnya masalah
“kemiskinan” ditinjau dari sudut ekonomi, geografi, dan sejarah.
c) Pendekatan
Daerah
Pendekatan ini materi pelajaran ditentukan
berdasarkan lokasi atau tempat. Seperti mengkaji daerah ibu kota ditinjau dari
keadaan iklim, sejarah, social budayanya, ekonominya dan lain sebagainya.
2.2.3
Integrated
Curriculum
Pada organisasi yang menggunakan model integrated, nama-nama
mata pelajaran atau bidang studi sudah tidak nampak. Belajar berangkat dari
suatu pokok masalah yang harus dipecahkan. Masalah tersebut dinamakan unit. Blajar
berdasarkan unit ini, bukan hanya menghafal sejumlah fakta, tetapi juga mencari
dan menganalisa fakta sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Belajar dengan
model ini diharapkan dapat mengembangkangkan seluruh aspek diri anak didik,
seperti sikap, emosi atau keterampilan, tidak hanya aspek intelektual mereka.
2.3 Desain Kurikulum Berorientasi pada Masyarakat
Desain ini didasarkan pada asumsi bahwa
tujuan dari sekolah adalah untuk melayani kebutuhan masyarakat, sehingga
kebutuhan masyarakat harus dijadikan dasar dalam menentukan isi kurikulum. Terdapat
tiga perspektif desain kurikulum berorientasi pada masyarakat yaitu :
2.3.1
Perspektif Status Quo (the status quo perspective)
Rancangan ini diarahkan untuk
melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat. Dalam perspektif ini kurikulum
merupakan perencanaan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak
didik sebagai persiapan menjadi orang dewasa yang dibutuhkan dalm kehidupan
masyarakat. Yang dijadikan dasar adalah aspek-aspek penting kehidupan
masyarakat. Tokoh aliran ini adalah Franklin Bobbit.
2.3.2
Perspektif Reformis (the reformist perspective)
Dalam perspektif ini kurikulum dikembangkan untuk lebih
meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri. Kurikulum ini menghendaki peran
serta masyarakat secara total dalam proses pendidikan. Pendidikan berperan
untuk merubah tatanan masyarakat. Baik pendidikan formal maupun non formal
harus mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian
kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata. Tokoh perspektif ini adalah
Paulo Freire dan Ivan Illich.
2.3.3
Perspektif Masa Depan (the futurist perspective)
Perspektif ini seirng dikaitkan
dengan kurikulum rekonstruksi sosial, yang menekankan pada proses mengembangkan
hubungan antara kurikulum dengan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat.
Model ini lebih mengutamakan kepentingan sosial dari pada kepentingan individu.
Setiap individu harus memahami masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan,
untuk kemudian mengembangkan masyarakatnya sendiri. Tokoh perspektif ini adalah
Harold Rug.
2.4 Desain Kurikulum Berorientasi pada Siswa
Desain ini didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan
adalah untuk membantu anak didik, sehingga tidak boleh terlepas dari kehidupan
anak didik. Kurikulum yang berorientasi pada siswa menekankan pada siswa
sebagai sumber isi kurikulum, karena itu segala sesuatu yang menjadi isi
kurikulum tidak boleh lepas dari kehidupan anak didik.
Desain berorientasi pada anak didik dapat dilihat minimal dalam dua perspektif yaitu :
Perspektif kehidupan anak di masyarakat (the child in society perspective) dan Perspektif Psikologis (the psychological curriculum perspective).
Desain berorientasi pada anak didik dapat dilihat minimal dalam dua perspektif yaitu :
Perspektif kehidupan anak di masyarakat (the child in society perspective) dan Perspektif Psikologis (the psychological curriculum perspective).
2.4.1
Perspektif Kehidupan Anak di
Masyarakat (the child in society perspective)
Pada
perspektif ini kurikulum mengharapkan materi kurikulum yang dipelajari di
sekolah serta pengalaman belajar, didesain sesuai dengan kebutuhan anak sebagai
persiapan agar mereka dapat hidup di masyarakat. Anak dituntut bukan
mempelajari berbagai konsep yang bersifat abstrak, melainkan teori atau konsep
yang dihubungkan dengan kehidupan nyata, sehingga apa yang dipelajari di
sekolah relevan dengan kenyataan di masyarakat. Tokoh perspektif ini adalah
Francis Parker.
2.4.2
Perspektif Psikologis (the psychological curriculum perspective)
Dalam perspektif psikologis desain kurikulum yang
berorientasi pada siswa, sering diartikan sebagai kurikulum yang bersifat
humanistik, yang muncul sebagai reaksi terhadap proses pendidikan yang hanya
mengutamakan segi intelektual. Karena itu dalam perspektif ini, tugas dan
tanggung jawab pendidikan di sekolah bukan hanya mengembangkan segi intelektual
anak didik saja, tetapi harus mengembangkan seluruh pribadi anak didik sehingga
dapat membentuk manusia utuh. Kurikulum humanistik menekankan pada integrasi,
yaitu kesatuan pribadi secara utuh antara intelektual, emosional, dan tindakan.
Kriteria keberhasilan dalam perspektif ini adalah ditentukan oleh perkembangan
anak supaya menjadi manusia yang terbuka dan berdiri sendiri. Proses
pembelajaran yang baik adalah manakala memberikan kesempatan kepada anak didik
untuk tumbuh berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
2.5 Desain
Kurikulum Teknologis
Model desain kurikulum teknologi
difokuskan kepade efektivitas program, metode dan bahan-bahan yang dianggap
dapat mencapai tujuan. Teknologi mempengaruhi kurikulum dapat dilihat dari dua
sisi, yaitu sisi penerapan hasil-hasil teknologi dan penerapan teknologi
sebagai suatu system.
Sisi pertama yang berhubungan dengan
penerapan teknologi adalah perencanaan yang sistematis dengan menggunakan media
atau alat dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan teknologi sebagai suatu sistem,
menekankan kepada penyusunan program pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
sistem yang ditandai dengan perumusan tujuan khusus sebagai tujuan tingkah laku
yang harus dicapai. Akhir dari suatu proses pembelajaran adalah ketercapaian
tujuan yang dirumuskan sebelumnya.
Kurikulum ini memiliki
karakteristik sebagai berikut :
· Belajar
dipandang sebagai proses-respon terhadap rangsangan
· Belajar
diatur berdasarkan langkah-langkah tertentu dengan sejumlah tugas yang harus
dipelajari.
· Secara
khusus siswa belajar secara individual, meskipun dalam hal-hal tertentu bisa
saja belajar secara kelompok.
Organisasi bahan
pelajaran dalam kurikulum teknologis memiliki ciri-ciri: pertama, pengorganisasian materi kurikulum
berpatokan pada rumusan tujuan; kedua, materi kurikulum disusun secara berjenjang,
dan ketiga, materi kurikulum disusun
dari mulai yang sederhana menuju yang kompleks.
Selanjutnya
untuk efektifitas dan keberhasilan implementasi kurikulum teknologi hendaklah
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
· Kesadaran
akan tujuan, artinya siswa perlu memahami bahwa pembelajaran diarahkan untuk
mencapai tujuan. Oleh karena itu, siswa perlu diberi penjelasan tujuan apa yang
harus dicapai.
· Dalam
pembelajaran siswa diberi kesempatan mempraktikan kecakapan sesuai dengan
tujuan yang harus dicapai.
· Siswa
perlu diberi tahu hasil yang dicapai. Dengan demikian, siswa perlu menyadari
apakah pembelajaran sudah dianggap cukup atau masih perlu bantuan.
Dalam
pengembangan kurikulum banyak sekali masalah yang dihadapi, yang memerlukan
pertimbangan dan pemecahan tersendiri. Semua masalah tersebut disebabkan
kondisi yang ada, yang disesuaikan dengan tuntutan dan prinsip kebutuhan yang
belum terpenuhi.
Masalah –
masalah ini dibagi menjadi masalah umum dan khusus, masalah umum antara lain :
bidang cakupan, relevansi, keseimbangan, integrasi, sekuens, kontiniutas,
artikulasi, kemampuan transfer.
Kemampuan
transfer maksudnya apapun yang dipelajari di sekolah seharusnya dapat
diaplikasikan diluar sekolah, dengan demikian proses pendidikan di sekolah
harus dapat memperkaya kehidupan siswa. Para ahli pendidikan seperti Thorndike,
Daniel dan L.N Tanner serta Taba menyepakati bahwa guru hendak mentransfer
nilai –nilai tersebut, dan para pengembang kurikulum harus menentukan tujuan,
menyeleksi isi, dan memilih strategi pengajaran yang mengarah pada
pendayagunaan proses transfer secara maksimal.
Sedangkan
masalah khusus pengembangan adalah : Tujuan
hasil kurikulum yang diharapkan oleh sekolah, Masalah isi dan organisasi
kurikulum, Proses penyusunan dan
revisi kurikulum.
Hambatan –
hambatan dalam pengembangan kurikulum khususnya pada guru. Guru yang kurang berpartisipasi dalam mendesain pengembangan
kurikulum karena kurangnya waktu, kekurangkesesuaian pendapat antara guru
dengan sekolah atau administrator karena
kemampuan dan pengetahuan guru itu sendiri, hambatan yang lain datangnya
dari masyarakat baik dalam pembiayaan
maupun umpan balik dari masyarakat terhadap pendidikan dan kurikulum yang
berlangsung.
Fungsi
pendidikan dahulu dan sekarang sudah berubah, dalam masyarakat dahulu
persekolahan berfungsi untuk memelihara dan meneruskan nilai nilai yang ada
sejak dahulu. Sedangkan masa sekarang pendidikan sekarang didasarkan pada
filsafat pendidikan yang jelas, masalah atau topik tertentu sehingga pendidikan
yang didapatkan berdasarkan pengalaman sendiri dan diharapkan dapat diaplikasikan
secara langsung kepada masyarakat.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a.
Desain kurikulum adalah menyusun
rancangan atau menyusun model kurikulum
sesuai visi dan misi sekolah.
b.
Ada tiga bentuk organisisi kurikulum
yang berorientasi pada disiplin ilmu, yaitu: subject centered curriculum,
correlated curriculum, integrated curriculum. Setiap desain kurikukum
memberikan teknik atau cara yang efektif dalam proses pembelajaran agar
berjalan dengan efektif dan efisien.
c.
Hambatan – hambatan dalam pengembangan
kurikulum khususnya pada guru. Guru yang kurang berpartisipasi dalam mendesain
pengembangan kurikulum karena kurangnya waktu, kekurang kesesuaian pendapat
antara guru maupun dengan sekolah atau administrator, karena kemampuan dan pengetahuan guru itu sendiri,
hambatan yang lain datangnya dari masyarakat baik dalam pembiayaan maupun umpan
balik dari masyarakat terhadap pendidikan dan kurikulum yang berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Alam
Biosfer. 2010. Desain Kurikulum http:// Desain Kurikulum/biosfer alam. Di akses 15
Maret 2014
Missaik. 2010. Desain Kurikulum. http://missaik.
blogspot.com/2010/11/desain-kurikulum.html . Di akses 15 Maret 2014
Prof. Dr. H.
Wina Sanjaya, M.Pd. 2008. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta : Kharisma Putra Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar